Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah meminta G20 untuk mengatasi surplus perdagangan China sebesar $1,2 triliun. Permintaan yang disampaikan dalam pertemuan G20 ini menempatkan angka yang mencolok di pusat diskusi ekonomi global.
Surplus yang Mengerdilkan Sebagian Besar Ekonomi
Surplus perdagangan China mencapai $1,2 triliun. Angka tersebut cukup besar untuk membentuk kembali arus perdagangan dan memengaruhi pasar mata uang. Ini juga berarti China mengekspor jauh lebih banyak daripada mengimpor, sebuah pola yang telah menuai kritik dari mitra dagang selama bertahun-tahun.
Dorongan Bessent merupakan seruan langsung kepada G20, kelompok ekonomi terbesar di dunia, untuk mengambil tindakan kolektif. Kelompok ini sering memperdebatkan ketidakseimbangan perdagangan, tetapi mengubah perdebatan tersebut menjadi kebijakan terbukti sulit.
Peran G20 dalam Perdagangan Global
G20 mempertemukan menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari ekonomi-ekonomi utama. Pertemuannya menjadi platform untuk mengoordinasikan isu-isu yang melintasi batas negara. Surplus perdagangan adalah salah satu isu tersebut, karena dapat memengaruhi nilai tukar, permintaan global, dan bahkan hubungan politik.
Seruan Bessent menunjukkan bahwa AS ingin G20 melampaui diskusi. Apakah itu berarti aturan baru, penegakan yang lebih kuat, atau sekadar tekanan lebih besar pada China masih belum jelas.
Apa yang Terjadi Selanjutnya
Belum ada kabar mengenai bagaimana G20 akan merespons. China belum berkomentar secara publik. Pertemuan formal berikutnya kelompok ini diharapkan berlangsung akhir tahun ini, meskipun tanggalnya belum ditetapkan.
Surplus $1,2 triliun menjadi pengingat akan besarnya tantangan. Permintaan Bessent menempatkan tanggung jawab pada G20 untuk menemukan jalan ke depan. Apakah bisa, itu adalah pertanyaan terbuka.




