Pemerintah Iran dengan tegas membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung atau direncanakan dengan Amerika Serikat, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa waktu untuk solusi diplomatik semakin menipis. Pernyataan yang beruntun ini menandai pertukaran paling tajam dalam beberapa minggu terakhir antara kedua negara, meningkatkan prospek konfrontasi militer yang dapat mengganggu pasar global.
Penolakan tegas Teheran
Pejabat Iran pada Selasa mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan dengan Washington yang sedang berlangsung, secara langsung membantah sinyal sebelumnya dari pemerintahan Trump bahwa diskusi saluran belakang telah dimulai. Penolakan ini datang melalui media negara, dengan juru bicara kementerian luar negeri menyebut laporan negosiasi sebagai "propaganda tanpa dasar." Juru bicara tersebut tidak merinci apakah ada kontak tidak langsung yang terjadi melalui perantara.
Ultimatum Trump
Presiden Trump, berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, menggambarkan situasi saat ini sebagai "kesempatan terakhir" bagi Iran untuk datang ke meja perundingan. Dia tidak menyebutkan tenggat waktu atau konsekuensi apa yang akan terjadi jika pembicaraan gagal, tetapi bahasanya menggemakan ancaman aksi militer sebelumnya. Pemerintahan telah memperketat sanksi ekonomi terhadap Iran selama berbulan-bulan, tetapi pernyataan terbaru presiden menunjukkan pergeseran ke arah sikap yang lebih agresif.
Meningkatnya risiko militer
Dengan kedua belah pihak memperkeras posisi mereka, risiko bentrokan militer yang tidak disengaja atau disengaja telah meningkat. Aset angkatan laut AS di Teluk Persia tetap dalam kewaspadaan tinggi, dan pasukan Iran telah melakukan beberapa latihan di dekat jalur air strategis. Analis yang memantau kawasan tersebut mengatakan kurangnya saluran komunikasi langsung membuat kesalahan perhitungan lebih mungkin terjadi. Tidak ada insiden spesifik yang dilaporkan, tetapi Pentagon tidak mengesampingkan penempatan lebih lanjut.
Kekhawatiran ketidakstabilan pasar
Para investor mengamati kebuntuan ini dengan cermat. Harga minyak telah naik sedikit karena kekhawatiran pasokan, dan krisis besar dapat mendorong minyak mentah jauh lebih tinggi. Pasar ekuitas yang lebih luas telah bergejolak, dengan S&P 500 turun pada berita tersebut. Para pedagang memperhitungkan probabilitas yang lebih tinggi dari gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, titik tersedak untuk sekitar seperlima minyak bumi dunia. Jika diplomasi gagal sepenuhnya, dampak ekonomi dapat meluas jauh melampaui pasar energi.
Tidak ada pembicaraan baru yang dijadwalkan. Gedung Putih belum mengumumkan langkah selanjutnya, dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda membalikkan penolakannya. Jendela untuk solusi damai tampaknya semakin menyempit.




