Amerika Serikat memperluas serangan udaranya ke Iran untuk malam keenam berturut-turut, menghantam jembatan, situs energi, dan sebuah menara pelabuhan utama. Sementara itu, pasar prediksi Polymarket menempatkan peluang runtuhnya rezim hanya pada 10,5%, menunjukkan bahwa para pedagang tidak melihat akhir konflik yang cepat.
Malam Keenam Serangan
Pesawat tempur Amerika menargetkan infrastruktur di seluruh Iran, termasuk jembatan yang digunakan untuk jalur pasokan, fasilitas energi yang menggerakkan perekonomian negara, dan sebuah menara pelabuhan utama. Serangan ini merupakan bagian dari kampanye yang meningkat dan telah menarik perhatian internasional. Pejabat tidak menjelaskan tujuan spesifik dari gelombang terbaru ini, tetapi pola target menunjukkan upaya untuk melemahkan kapasitas militer dan ekonomi Iran.
Pertempuran di Selat Hormuz, titik rawan kritis untuk pengiriman minyak global, meningkat bersamaan dengan serangan udara. Selat tersebut telah menyaksikan peningkatan aktivitas angkatan laut dan pertempuran kecil, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pada pasar energi. Tidak ada rincian mengenai korban jiwa atau kerusakan pada pengiriman yang telah dirilis.
Bertaruh pada Perubahan Rezim
Meskipun kampanye pengeboman berkelanjutan, pasar prediksi Polymarket menunjukkan kontrak 'jatuhnya rezim Iran-Ya' diperdagangkan pada probabilitas 10,5%. Itu adalah angka yang rendah untuk pasar yang sering mencerminkan sentimen pedagang pada hasil geopolitik. Kontrak tersebut membayar jika pemerintah Iran digulingkan atau runtuh sebelum tanggal yang ditentukan. Harga 10,5% menyiratkan bahwa sebagian besar petaruh melihat serangan saat ini tidak cukup untuk menumbangkan rezim.
Pasar prediksi seperti Polymarket telah menarik perhatian karena rekam jejak mereka pada peristiwa politik, tetapi tidak selalu akurat. Probabilitas rendah menunjukkan skeptisisme tentang efektivitas serangan udara saja, bahkan ketika AS tidak menunjukkan tanda-tanda mundur.
Selat Hormuz dalam Sasaran
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab dan menangani sekitar seperlima minyak dunia. Intensifikasi pertempuran di sana menambah lapisan risiko baru. Baik AS maupun Iran telah mengancam akan mengganggu pengiriman, dan eskalasi apa pun dapat melonjakkan harga minyak. Serangan udara di menara pelabuhan Iran dipandang sebagai bagian dari upaya untuk membatasi kemampuan Teheran dalam memproyeksikan kekuatan angkatan laut.
Wilayah ini tetap dalam ketegangan. Militer AS belum mengumumkan jadwal untuk operasi tersebut, dan pertempuran di Selat tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Perkembangan besar berikutnya bisa datang dari jalur diplomatik, tetapi belum ada pembicaraan yang dikonfirmasi secara publik.




