Asosiasi Teknologi Konsumen (CTA) mendesak Senat untuk mengadakan pemungutan suara di lantai (sidang) mengenai CLARITY Act, sebuah RUU yang telah lolos dari komite dengan dukungan bipartisan. Kelompok yang mewakili lebih dari 1.300 perusahaan teknologi ini berpendapat bahwa undang-undang tersebut diperlukan untuk memodernisasi aturan bagi sektor teknologi. Namun, perbedaan pendapat mengenai ketentuan etika yang direvisi masih menghalangi pemungutan suara final.
Apa yang akan dilakukan CLARITY Act
Ketentuan pasti dari RUU ini tidak dirinci dalam dorongan publik, tetapi telah mendapat dukungan dari kedua partai di komite. CTA mengatakan bahwa undang-undang ini akan memberikan kejelasan pada kerangka peraturan yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan anggotanya. Seruan kelompok ini untuk pemungutan suara datang ketika industri teknologi menghadapi pengawasan yang semakin meningkat dari para pembuat undang-undang dan regulator.
Titik krusial: ketentuan etika
Meskipun ada aksi bipartisan di komite, perselisihan mengenai ketentuan etika telah menghentikan RUU tersebut. CTA tidak menyebutkan bagian mana dari bahasa etika yang direvisi yang menyebabkan kebuntuan. Organisasi ini mendesak Senat untuk menyelesaikan perbedaan tersebut dan memajukan undang-undang ini.
Keanggotaan CTA mencakup perusahaan teknologi besar, startup, dan produsen. Kelompok ini aktif dalam melobi kebijakan yang mendukung inovasi dan mengurangi ketidakpastian regulasi. Seruan terbarunya secara langsung menyasar kepemimpinan Senat.
Belum ada jadwal yang ditetapkan untuk pemungutan suara di lantai. Kalender Senat padat, dan sengketa etika ini bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk diselesaikan. Untuk saat ini, CTA menunggu — dan mendesak — untuk tindakan.



