Pemerintahan Trump sedang menyusun perintah eksekutif tentang keamanan kecerdasan buatan (AI) yang akan berlaku untuk badan pemerintah AS, sebuah langkah yang dapat memperketat pengawasan regulasi dan memaksa perusahaan AI untuk mengubah cara mereka beroperasi dan apa yang mereka ungkapkan. Perintah ini, yang masih dalam tahap persiapan, menandakan perubahan dalam cara pemerintah federal menangani risiko yang terkait dengan sistem AI—khususnya yang digunakan oleh atau mempengaruhi keamanan nasional.
Apa yang akan dilakukan perintah ini
Instruksi tersebut diharapkan mewajibkan badan-badan untuk mengadopsi standar keamanan yang lebih ketat untuk alat AI yang mereka beli, bangun, atau gunakan. Ini bisa berarti aturan baru bagi kontraktor dan vendor yang memasok perangkat lunak atau data AI kepada pemerintah. Meskipun bahasa yang tepat belum final, draf saat ini dilaporkan mencakup ketentuan yang akan memperluas kewajiban pengungkapan bagi perusahaan yang produk AI-nya digunakan di lingkungan federal yang sensitif.
Pejabat di dalam Gedung Putih dan di beberapa departemen telah mengerjakan teks tersebut selama berminggu-minggu. Cakupan perintah ini kemungkinan akan mencakup segala sesuatu mulai dari sistem pengenalan wajah hingga alat pengambilan keputusan bertenaga AI yang digunakan dalam penegakan hukum, imigrasi, dan pertahanan.
Dampak pada perusahaan AI
Jika perintah ini ditandatangani, itu tidak hanya akan mempengaruhi operasi pemerintah—tetapi juga akan berdampak pada sektor swasta. Perusahaan AI yang berbisnis dengan pemerintah AS mungkin harus menjalani audit yang lebih sering, berbagi data pelatihan dan arsitektur model, atau membuktikan bahwa sistem mereka bebas dari kerentanan tersembunyi. Startup kecil bisa menghadapi biaya kepatuhan yang membebani anggaran mereka, sementara pemain besar mungkin perlu merestrukturisasi cara mereka menangani keamanan data.
Perintah ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kekayaan intelektual. Perusahaan yang dipaksa membuka model mereka kepada inspektur pemerintah mungkin khawatir tentang kebocoran rahasia dagang. Pemerintahan belum mengatakan bagaimana mereka berencana menyeimbangkan keamanan nasional dengan perlindungan teknologi milik sendiri.
Mengapa pemerintahan bergerak sekarang
Kekhawatiran tentang serangan siber bertenaga AI, deepfake, dan senjata otonom telah berkembang di seluruh badan federal selama bertahun-tahun. Pemerintahan Trump sebagian besar mengambil pendekatan lepas tangan terhadap regulasi AI, lebih memilih membiarkan industri menetapkan standarnya sendiri. Namun, insiden baru-baru ini yang melibatkan misinformasi yang dihasilkan AI dan dugaan penggunaan AI oleh pihak asing dalam spionase telah mendorong pejabat keamanan nasional untuk meminta pembatas yang lebih jelas.
Perintah ini dipandang sebagai cara untuk memberlakukan pembatas tersebut tanpa menunggu Kongres mengesahkan undang-undang. Ini juga memberi Gedung Putih kesempatan untuk membentuk kebijakan AI sebelum pemerintahan berikutnya menjabat, tergantung pada hasil pemilu.
Teks perintah masih diedarkan di antara badan-badan untuk ditinjau. Pengacara pemerintah memeriksa apakah undang-undang yang ada memberikan wewenang yang cukup kepada presiden untuk menegakkan persyaratan yang diusulkan. Versi final bisa tiba di meja presiden dalam beberapa minggu, meskipun jadwalnya masih cair.
Satu pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah perintah tersebut akan mencakup mekanisme penegakan—seperti kekuasaan untuk menangguhkan kontrak atau menjatuhkan denda—atau hanya meminta badan-badan melaporkan kepatuhan. Jawabannya akan menentukan seberapa serius perusahaan mengambil aturan baru tersebut.



