Saham Robinhood Markets turun 4% pada hari Jumat setelah melaporkan pendapatan kuartal kedua yang menunjukkan penurunan tajam dalam pendapatan perdagangan kripto. Perusahaan mencatat total pendapatan bersih sebesar $1,31 miliar untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni, naik 32% dari $989 juta pada tahun sebelumnya dan melampaui ekspektasi analis. Namun, pendapatan kripto turun menjadi $100 juta, angka yang membuat investor khawatir dan menekan harga saham lebih rendah.
Pendapatan melampaui target, tetapi kripto tertinggal
Angka-angka utama terlihat solid. Pendapatan Q2 Robinhood sebesar $1,31 miliar melampaui perkiraan Wall Street, dan kenaikan 32% secara tahunan menunjukkan bahwa perusahaan pialang ini masih mengembangkan bisnis intinya. Perusahaan telah berekspansi ke rekening pensiun dan kartu kredit, dan upaya tersebut tampaknya membuahkan hasil.
Namun, segmen kripto — yang dulunya menjadi pendorong pertumbuhan utama — terus menjadi titik lemah. Pendapatan kripto sebesar $100 juta turun tajam dari kuartal-kuartal sebelumnya, meskipun Robinhood tidak merinci angka perbandingan untuk Q2 2025 dalam laporannya. Penurunan ini terjadi ketika volume perdagangan ritel di aset digital mendingin di seluruh industri.
Apa yang ditunjukkan oleh angka-angka tersebut
Total pendapatan bersih Robinhood sebesar $1,31 miliar mencakup pendapatan berbasis transaksi, pendapatan bunga bersih, dan biaya lainnya. Perusahaan tidak merinci berapa banyak pendapatan kripto yang berasal dari komisi perdagangan versus layanan lain seperti staking kripto atau biaya dompet. Namun, penurunan ini menunjukkan bahwa lonjakan aktivitas perdagangan kripto yang terlihat pada akhir 2025 dan awal 2026 telah mereda.
Penurunan saham sebesar 4% menghapus sekitar $1,5 miliar nilai pasar, menurut data Bloomberg. Saham Robinhood telah bergejolak tahun ini, berayun pada setiap laporan pendapatan saat investor mencoba mengukur keberlanjutan aliran pendapatannya.
Hambatan kripto masih berlanjut
Bisnis kripto Robinhood menghadapi lingkungan yang sulit. Ketidakpastian regulasi di AS membuat beberapa pedagang ritel berhati-hati, dan persaingan dari bursa seperti Coinbase dan Binance.US masih ketat. Perusahaan telah mendorong ekspansi ke Eropa dan Inggris untuk diversifikasi, tetapi pasar tersebut masih kecil dibandingkan dengan basis AS-nya.
Hasil Q2 ini menggarisbawahi tantangan bagi Robinhood: bisnis keseluruhannya sehat, tetapi bagian kripto — yang sebelumnya memberikan premi pertumbuhan — kini menjadi beban. Investor akan mencermati angka pendapatan kripto kuartal berikutnya. Jika turun lebih lanjut, saham bisa menghadapi tekanan lebih besar. Jika stabil, keunggulan pendapatan secara keseluruhan mungkin mulai lebih diperhitungkan.




