Pendiri sekaligus CEO VALR, Farzam Ehsani, telah memperingatkan bahwa usulan regulasi kripto lintas batas di Afrika Selatan dapat merusak parah sektor aset digital lokal. Aturan tersebut, katanya, berisiko menghambat inovasi, mendorong modal keluar negeri, dan menggerakkan aktivitas keuangan ke bawah tanah. Komentarnya muncul saat regulator tengah menyusun kerangka kerja untuk transfer kripto lintas batas.
Apa yang Dikatakan Ehsani
Berbicara tentang rancangan kerangka kerja tersebut, Ehsani tidak berbasa-basi. Ia berargumen bahwa aturan yang diusulkan akan mempersulit bisnis kripto Afrika Selatan untuk beroperasi dan bersaing secara global. Sebagai kepala salah satu bursa kripto terbesar di negara itu, ia memiliki pandangan langsung tentang tantangan industri ini.
Peringatan Ehsani tegas: pendekatan saat ini terhadap kripto lintas batas bisa lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Ia tidak menyebutkan bagian mana dari kerangka kerja yang ia keberati, tetapi intinya jelas — aturan yang tertulis bisa mendorong perusahaan untuk mencari yurisdiksi yang lebih ramah.
Risiko Pelarian Modal dan Inovasi Terhambat
Kekhawatiran terbesar, menurut Ehsani, adalah bahwa aturan yang diusulkan akan mendorong modal keluar negeri. Jika biaya kepatuhan naik atau aturan terlalu ketat, investor internasional mungkin hanya akan membawa uang mereka ke tempat lain. Itu adalah risiko nyata bagi sektor yang sudah menghadapi pasar global yang sulit.
Inovasi menjadi korban lainnya. Startup dan pemain mapan sama-sama membutuhkan ruang untuk bereksperimen. Jika kerangka kerja lintas batas membatasi mereka, mereka akan beradaptasi ke pasar yang lebih kecil atau pergi. Poin Ehsani adalah bahwa regulasi tersebut secara tidak sengaja bisa mengecilkan industri alih-alih melindunginya.
Transfer lintas batas adalah nyawa ekonomi kripto. Bursa Afrika Selatan bergantung padanya untuk menyediakan likuiditas dan akses ke pasar global. Jika aturan membuat transfer ini lambat atau mahal, industri lokal kehilangan keunggulannya. Ini bukan hanya soal pemain besar — perusahaan kecil dan trader individu juga mengandalkan aliran ini, dan ketika menjadi lebih sulit untuk dieksekusi, seluruh ekosistem merasakannya.
Risiko Aktivitas Bawah Tanah
Lalu ada prospek aktivitas yang masuk ke bawah tanah. Ketika aturan menjadi terlalu memberatkan, sebagian pelaku tidak hilang — mereka hanya pindah ke saluran yang tidak diatur. Ehsani memperingatkan bahwa kerangka kerja baru bisa mendorong aktivitas keuangan ke dalam bayang-bayang, yang merupakan kebalikan dari apa yang biasanya diinginkan regulator.
Itu adalah masalah yang akrab di dunia kripto. Aturan yang terlalu ketat bisa mendorong pengguna ke platform peer-to-peer atau bursa luar negeri yang tidak tunduk pada pengawasan Afrika Selatan. Hasilnya: transparansi berkurang, bukan bertambah. Dan begitu aktivitas masuk ke bawah tanah, lebih sulit bagi regulator untuk memantau atau melindungi konsumen.
Peringatan Ehsani bukan hanya tentang keuntungan industri. Ini tentang efektivitas regulasi itu sendiri. Jika kerangka kerja akhirnya mendorong aktivitas keluar dari sistem yang diatur, ia gagal memenuhi tujuannya sendiri. Peringatan ini menambah tekanan pada regulator Afrika Selatan untuk menyempurnakan detailnya. Bagi industri yang sudah menghadapi hambatan global, hal terakhir yang dibutuhkan adalah kerangka kerja yang memperburuk keadaan.




