Perusahaan-perusahaan Inggris meningkatkan rekrutmen spesialis kecerdasan buatan (AI) meskipun mereka memangkas jumlah karyawan di bidang lain, menurut data perekrutan terbaru. Tren ini mencerminkan lonjakan permintaan akan keterampilan AI yang mengubah pasar tenaga kerja negara ini, memperlebar kesenjangan antara pekerja berketerampilan tinggi dan rendah, serta meningkatkan persaingan untuk mendapatkan talenta yang terbatas.
Mengapa perekrutan AI melonjak
Para pemberi kerja di berbagai sektor—dari keuangan hingga ritel—mengalokasikan sumber daya untuk tim AI. Lowongan pekerjaan untuk peran seperti insinyur pembelajaran mesin, ilmuwan data, dan manajer produk AI telah meningkat tajam selama setahun terakhir. Dorongan ini didorong oleh keyakinan bahwa AI dapat memangkas biaya, meningkatkan produktivitas, dan membuka aliran pendapatan baru. Namun pergeseran ini memiliki konsekuensi: banyak perusahaan yang sama diam-diam mengurangi posisi lain, terutama di fungsi administratif, layanan pelanggan, dan back-office yang dapat diotomatisasi atau disederhanakan oleh AI.
Sebuah perusahaan rekrutmen yang berbasis di London melaporkan bahwa lowongan terkait AI kini mencakup hampir satu dari lima daftar pekerjaan teknologi, naik dari satu dari sepuluh dua tahun lalu. Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan secara keseluruhan di Inggris sedikit menurun, menunjukkan bahwa perekrutan AI justru menggerus peran lain daripada menambah total lapangan kerja.
Dampak pada angkatan kerja yang lebih luas
Konsekuensinya sudah terlihat. Pekerja tanpa keterampilan AI semakin sulit mendapatkan pekerjaan atau menegosiasikan kenaikan gaji. Beberapa telah diberhentikan karena peran mereka diotomatisasi atau digabungkan. Tren ini paling terasa di industri seperti perbankan, di mana chatbot menangani pertanyaan pelanggan dan algoritme memproses aplikasi pinjaman, serta di bidang logistik, di mana otomatisasi gudang mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual.
Serikat pekerja telah menyuarakan kekhawatiran tentang perpindahan pekerja dan perlunya program pelatihan ulang. Namun sejauh ini, inisiatif pemerintah untuk meningkatkan keterampilan pekerja kesulitan mengimbangi kecepatan perubahan. Sebuah komite parlemen baru-baru ini mendengar bahwa Inggris berisiko menciptakan angkatan kerja dua tingkat: sekelompok kecil ahli AI dengan bayaran tinggi dan kumpulan pekerja yang lebih besar dalam pekerjaan tidak stabil dengan upah rendah.
Kesenjangan ekonomi yang melebar
Ledakan perekrutan AI juga memperburuk ketimpangan pendapatan. Gaji untuk spesialis AI telah melonjak 20-30% selama setahun terakhir, dengan peran puncak mencapai angka enam digit. Sebaliknya, upah untuk banyak pekerjaan keterampilan menengah stagnan atau turun secara riil. Kesenjangan ini sangat mencolok di London dan Inggris Tenggara, di mana sebagian besar pekerjaan AI terkonsentrasi, meninggalkan daerah lain tertinggal.
Para ekonom memperingatkan bahwa tanpa intervensi, kesenjangan ini bisa semakin dalam. Perusahaan kecil yang tidak mampu bersaing untuk mendapatkan talenta AI mungkin kalah dari pesaing yang lebih besar. Dan pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi mungkin kesulitan untuk melatih ulang diri mereka untuk peran baru, terutama jika mereka tidak memiliki akses ke pendidikan terjangkau atau pelatihan keterampilan digital.
Persaingan untuk talenta semakin memanas
Perebutan talenta AI sangat ketat. Perusahaan saling merebut karyawan, menawarkan bonus penandatanganan, opsi saham, dan fleksibilitas kerja jarak jauh. Beberapa bahkan merekrut dari luar negeri, meskipun pembatasan visa dan birokrasi terkait Brexit membuat hal itu semakin sulit. Hasilnya adalah pasar tenaga kerja yang ketat di mana bahkan peran AI tingkat menengah menarik puluhan pelamar—tetapi banyak dari pelamar tersebut tidak memiliki pengalaman spesifik yang diinginkan pemberi kerja.
Startup dan perusahaan yang sedang berkembang sangat tertekan. Mereka sering kali tidak dapat menandingi gaji dan tunjangan yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi besar atau bank mapan. Beberapa beralih ke kontrak atau merekrut staf junior dan melatih mereka di internal, tetapi itu membutuhkan waktu dan uang.
Pemerintah diperkirakan akan menerbitkan kertas putih tentang AI dan pasar tenaga kerja akhir tahun ini. Mereka kemungkinan akan menghadapi tekanan untuk mengatasi pelatihan ulang, aturan imigrasi untuk pekerja terampil, dan kesenjangan regional. Untuk saat ini, pesan dari data sudah jelas: AI sedang mengubah pasar kerja Inggris, dan tidak semua orang mendapatkan manfaat yang sama.




