Departemen Kehakiman AS (DOJ) telah melaksanakan perampasan bitcoin terbesar dalam sejarahnya, menyita 127.271 BTC—senilai sekitar $15 miliar dengan harga saat ini—dalam apa yang disebut sebagai kasus rekor. Jumlah yang sangat besar ini kembali menyoroti kompleks penipuan besar yang telah menjadi sumber utama penipuan kripto, perdagangan manusia, dan kejahatan terorganisir di seluruh dunia.
Skala perampasan
Untuk memberi gambaran: 127.271 bitcoin lebih banyak dari seluruh simpanan yang disita dari pasar gelap Silk Road satu dekade lalu. Jumlah ini sekitar 0,6% dari seluruh bitcoin yang akan pernah ada. DOJ tidak menyebutkan penyelidikan atau terdakwa spesifik yang terkait dengan perampasan ini, tetapi jumlahnya saja menandakan penyelidikan jangka panjang yang kemungkinan terkait dengan jaringan penipuan atau pencucian uang besar.
Kaitan dengan kompleks penipuan global
Kasus ini memicu kembali perdebatan tentang peran kompleks penipuan—kawasan berbenteng di Asia Tenggara dan tempat lain di mana pekerja diperdagangkan atau dipaksa menjalankan skema penipuan investasi kripto, skema penipuan babi, dan operasi pencucian uang. Kompleks ini telah meledak jumlahnya sejak 2022, dan perampasan DOJ menunjukkan bahwa aparat penegak hukum semakin mahir melacak bitcoin yang mengalir keluar dari tempat-tempat tersebut. Ini merupakan kemenangan langka bagi otoritas yang selama ini kesulitan membongkar infrastruktur kriminal lintas batas.
Bitcoin yang disita akan melalui proses perampasan aset, yang dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sebagian atau seluruhnya bisa dilelang, tergantung perintah pengadilan. Untuk saat ini, kasus ini menjadi peringatan: bahkan ketika sindikat kriminal memindahkan miliaran dolar melalui kripto, jejaknya tidak sepenuhnya tak terlihat. DOJ tidak berkomentar apakah perampasan ini akan mengarah pada penangkapan atau dakwaan lebih lanjut, namun jaksa diperkirakan akan mengajukan dakwaan tambahan dalam beberapa pekan mendatang seiring perkembangan penyelidikan.




