Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa menyatakan perang terhadap kelompok militan Lebanon Hizbullah, sebuah eskalasi dramatis yang mengancam stabilitas kawasan dan menggagalkan upaya diplomatik yang sudah rapuh. Pengumuman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan utara Israel dengan Lebanon, di mana bentrokan lintas perbatasan semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir.
Deklarasi dan dampak langsungnya
Pernyataan Netanyahu menandai perang formal pertama melawan Hizbullah sejak konflik 2006. Pemimpin Israel itu membingkai langkah tersebut sebagai respons yang diperlukan terhadap apa yang ia sebut sebagai 'agresi yang belum pernah terjadi sebelumnya' dari kelompok yang didukung Iran. Analis militer mengatakan keputusan itu dapat memicu konfrontasi yang lebih luas dengan Lebanon, sebuah negara yang sudah bergulat dengan keruntuhan ekonomi dan kelumpuhan politik.
Beberapa jam setelah deklarasi, pesawat tempur Israel menyerang target-target di Lebanon selatan, termasuk apa yang disebut militer sebagai gudang senjata dan pos komando Hizbullah. Otoritas Lebanon melaporkan setidaknya belasan korban sipil, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Hizbullah merespons dengan meluncurkan rentetan roket ke Israel utara, membuat warga berlarian ke tempat perlindungan bom.
Mengapa ketegangan memuncak
Konflik ini tidak muncul dalam semalam. Selama berbulan-bulan, Hizbullah telah menguji pertahanan udara Israel dengan drone dan rudal, sementara intelijen Israel memperingatkan penumpukan persenjataan di dekat perbatasan. Pemicunya tampaknya adalah serangkaian serangan terhadap posisi militer Israel pekan lalu yang menewaskan beberapa tentara. Pemerintah Netanyahu, di bawah tekanan domestik atas penanganan perang di Gaza, memanfaatkan insiden tersebut untuk membuka front baru.
Sementara itu, pemerintah sementara Lebanon berjuang untuk mengendalikan Hizbullah, yang beroperasi di luar kendali negara. Pemimpin kelompok itu, Hassan Nasrallah, berulang kali bersumpah akan melanjutkan serangan sampai Israel mengakhiri operasinya di Palestina. Para diplomat di Beirut mengatakan pemerintah sebenarnya tidak berdaya untuk mencegah eskalasi.
Ketidakstabilan geopolitik dan risiko diplomatik
Deklarasi perang ini mempersulit upaya internasional untuk menenangkan kawasan. Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, dengan harapan memperpanjang gencatan ke perbatasan Lebanon. Kini pembicaraan tersebut kemungkinan ditunda. Seorang pejabat senior PBB, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan eskalasi itu 'menghancurkan kepercayaan yang tersisa' di jalur diplomatik.
Iran, pendukung utama Hizbullah, secara terbuka memuji perlawanan kelompok itu tetapi tidak melakukan keterlibatan militer langsung. Namun, risiko perang yang lebih luas yang melibatkan Teheran tetap menjadi kekhawatiran Washington. Harga minyak naik tipis pada Rabu saat pasar memperhitungkan ancaman gangguan pasokan di Timur Tengah.
Tidak ada pihak yang menunjukkan kesediaan untuk meredakan ketegangan. Militer Israel telah memanggil unit cadangan untuk front utara, dan Hizbullah telah mengancam akan menargetkan kota-kota Israel dengan rudal berpemandu presisi. Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) telah mendesak pengendalian diri tetapi tidak memiliki mandat atau kekuatan tembak untuk campur tangan.
Untuk saat ini, satu-satunya kepastian adalah lebih banyak kekerasan. Pertanyaannya adalah apakah komunitas internasional dapat menghidupkan kembali jalur diplomatik sebelum konfrontasi berubah menjadi perang terbuka antara Israel dan Lebanon — sebuah perang yang mungkin tidak dapat dikendalikan oleh pihak mana pun.




